larangan korupsi dan kolusi

Dalam sebuah hadits dari kitab BM no 1412 nabi mengatakan bahwa
عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال
(والترمذي وصحّحه رواه أبو داود)لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيْ وَالْمُرْتَشِيْ
Yang artinya : “Abu Hurairah r.a berkata Rasulallah SAW melaknat penyuap dan yang diberi suap dalam urusan hukum” (HR. Ahmad dan Imam yang lima dan dihasankan oleh Turmudzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban )
Kata suap yang dalam bahasa Arab disebut “Rishwah” atau “Rasyi”, secara bahasa bermakna “memasang tali, ngemong, mengambil hati”
Kata menyuap secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu pemberian dalam hal materi kepada seseorang untuk memperoleh sesuatu hal yang diinginkannnya, apabila dalam konteks hukum maka dia menginginkan agar mendapatkan keringanan dalam hukumannya dan boleh jadi bisa mendapatkan pembebasan secara hukum hal ini pun Allah jelaskan dalam salah satu firmannya :

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui” (al-Baqarah 188)
Dalam ayat diatas sudah sangat jelas bahwa Alah SWT melarang kita untuk mendapatkan harta dari cara yang bathil, dan salah satunya adalah dengan melakukan proses suap-menyuap. Karena ketika proses tersebut dilakukan, maka akan banyak orang yang akan terluka serta akan menggambarkan suatu kinerja hukum yang tidak semestinya.
Ketika hukum sudah bisa dibeli oleh materi, maka yang terjadi adalah ketidakpercayaan lagi masyarakat terhadap hukum tersebut, dan yang ada adalah sifat dari anarkis masyarakat yang tidak puas dari kinerjanya, Ini adalah salah satu hal akibat dari hukum yang dilecehkan oleh para petinggi.
B. Macam-Macam Suap
Diantara macam-macam suap yaitu :
a. Suap yang dilakukan untuk membenarkan hal yang batil dan membatilkan yang haq, ini sudah sangat jelas haram karena firman Allah bahwa yang haram itu sudah jelas dan yang halal pun sudah sangat jelas.
b. Suap untuk mempertahankan kebenaran dan mencegah kebatilan serta kedzaliman. Secara naluri, manusia memiliki keinginan untuk berintraksi sosial, berusaha berbuat baik. Akan tetapi, terkadang manusia khilaf sehingga terjerumus ke dalam kemaksiatan dan berbuat dzalim terhadap sesamanya, menghalangi jalan hidup orang lain sehingga orang itu tidak memperoleh hak-haknya. Akhirnya, untuk menyingkirkan rintangan dan meraih hak-haknya terpaksai harus menyuap. Suap-menyuap dalam hal ini (dilakukan secara terpaksa), menurut Abdullah bin Abd. Muhsin suap menyuap dalam kasus tersebut bisa ditolerir (dibolehkan). Namun ia harus bersabar terlebih dahulu sampai Allah membuka jalan baginya.
Sekarang yang menjadi perntanyaan, siapakah yang berdosa apabila terjadi kasus suap-menyuap seperti itu? Yang menyuap atau yang menerma suap? Ataukah keduanya? Dalam hal ini ada dua pendapat:
Pertama, menurut jumhur ulama, yang menanggung dosa hanya penerima suap.
Kedua, menurut Abu Laits as-Samarqandi berkata, “Dalam kasus seperti ini (suap untuk mencegah kedzaliman) tidak ada masalah jika seseorang menyerahkan hartanya kepada orang lain demi mencari kebenaran.”
C. Larangan Pejabat Menerima Hadiah
Dalam hal pelarangan seorang mendapatkan hadiah dari orang lain sesuai dengan sabda nabi yang artinya
“Abu Humaid Assa’id r.a berkata, ‘ Rasulallah SAW mengangkat seorang pegawai untuk menerima sedekah/zakat, kemudian sesudah selesai ia dating kepada nabi dan berkata “ini untukmu dan yang ini untuk hadiah yang diberikan orang kepadaku”Maka nabi saw bersabda kepadanya, “Mengapakah anda tidak duduk saja dirumah ayah atau ibu anda untuk melihat apakan diberi hadiah atau tidak (oleh orang)?” Kemudian sesudah shalat, Nabi saw berdiri, setelah tashahud memuji Allah selayaknya, lalu bersabda, “Amma ba’du, mengapakah seorang pegawai yang diserahi amal, kemudian ia dating lalu berkata, ini hasil untuk kamu dan ini aku diberi hadiah, mengapa ia tidak duduk saja dirumah ayah atau ibunya untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak. Demi Allah! Yang jiwa Muhammad ditangan-Nya , tiada seseorang yang yang menyembunyukan sesuatu (korupsi), melainkan ia menghada dihari kiamat memikul diatas lehernya jika berupa onta bersuara atau lembu yang menguak atau kambing yang mengembek maka sungguh aku telah menyampaikan Abu Humaid berkata, ‘Kemudian Nabi saw mengangkat kedua tangannya sehingga aku dapat melihat putih kedua ketiaknya” (al-Bukhari dalam kitab “iman dan nadzar” bab “bagaimana cara nabi saw bersumpah”)
Secara sederhana hadiah itu sebenarnya sangat dianjurkan oleh nabi saw untuk selalu dilakukan antar sesama muslim. Hal ini sesuai dengan salah satu sabda nabi :
“Saling memberilah kamu antar sesama kalian maka akan timbul rasa kasih sayang diantara kalian”
Akan tetapi dalam hal pemberian hadiah ini islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang hal ini. Oleh karena itulah islam sangat melarang bagi seorang pejabat untuk mendapatkan hadiah dari orang lain, dikarenakan dapat menimbulkan berbagai fitnah dari orang lain serta dia telah mendapatkan gajih dari jabatannya tersebut.
Namun jika memang ingin memberikan hadiah, kenapa tidak diberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya serta pasti jika dia memberikan hadiah kepada kita maka akan ada niat terselubung dibalik itu semua atau disebut kolusi dan nepotisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: