mu’tazilah dan qadariyah

  1. Al-Manjilah Baina Al-Manjilatayn

Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah :

“Dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya Kepada mereka, maka bertambahlah keimanan mereka”. ( Al-Anfal : 2 ).

  1. Dan juga firman-Nya : “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun Sejarah Berdirinya Aliran Mu’tazilah

Mu’tazilah lahir sekitar awal abad ke 2 H di akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah di kota Bashrah di bawah pimpinan Waashil bin Atho’ Al Ghozaal. Kemudian berkembang dari kota Bashrah yang merupakan tempat tinggalnya Al Hasan Al Bashry, lalu menyebar ke kota Kufah dan Baghdad, akan tetapi pada masa ini Mu’tazilah menghadapi tekanan yang sangat berat dari para pemimpin Bani Umayah yang membuat aliran ini sulit berkembang dan sangat terhambat penyebarannya sehingga hal itu membuat mereka sangat membenci Bani Umayah karena penentangan mereka terhadap mazhab Mu’tazilah dan i’tikad mereka dalam permasalahan qadar. Bahkan mereka pun tidak menyukai dan tidak meridhai seorangpun dari pemimpin Bani Umayah kecuali Yazid bin Al Waalid bin Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 126 H ) karena dia mengikuti dan memeluk mazhab mereka.

Permusuhan dan perseteruan antara Bani Umayah dengan Mu’tazilah ini berlangsung terus menerus dengan keras sampai jatuhnya kekuasaan Bani Umayyah dan tegaknya kekuasaan Bani Abasiyah. Kemudian bersamaan dengan berkembangnya kekuasaan Bani Abasiyah, berkembanglah Mu’tazilah dengan mulainya mereka mengirim para da’i dan delegasi-delegasi ke seluruh negeri Islam untuk mendakwahkan mazhab dan i’tikad mereka kepada kaum muslimin dan diantara yang memegang peran besar dan penting dalam hal ini adalah Waashil bn Atho’. Kesempatan ini mereka peroleh karena mazhab mereka dengan syiar dan manhajnya memberikan dukungan yang besar dalam mengokohkan dan menguatkan kekuasaan Bani Abasiyah khususnya pada zaman Al Ma’mun yang condong mengikut aqidah mereka. Apalagi ditambah dengan persetujuan Al Ma’mun terhadap pendapat mereka tentang Al Quran itu Makhluk sampai-sampai Al Ma’mun mengerahkan seluruh kekuatan bersenjatanya untuk memaksa manusia agar mengikuti dan meyakini kebenaran pendapat tersebut. Lalu beliau mengirimkan mandat kepada para pembantunya di Baghdad pada tahun 218 H untuk menguji para hakim, Muhadditsin dan seluruh Ulama dengan pendapat bahwa Al Qur’an adalah makhluk. Demikian juga beliau memerintahkan para hakim untuk tidak menerima persaksian orang yang tidak berpendapat dengan pendapat tersebut dan menghukum mereka. Maka terjadilah fitnah yang sangat besar. Diantara para ulama yang mendapatkan ujian dan cobaan ini adalah Al imam Ahmad bin Hambal, akan tetapi beliau tetap teguh dengan aqidah dan pendapat Ahli Sunnah Wal Jamaah tentang hal tersebut yaitu bahwa Al Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk.

Walaupun Mu’tazilah telah melakukan usaha yang besar dalam menekuni dan menyelami kehidupan akal sejak abad ke dua sampai ke lima hijriyah, akan tetapi tidak mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan bahkan akhirnya mengalami kemunduran dan kegagalan dalam bidang tersebut. Hal ini tampaknya terjadi karena mereka tidak mengambil sumber manhaj mereka dari Al Qur’an dan As Sunnah, bahkan mereka mendasarinya dengan bersandar kepada akal semata yang telah dirusak oleh pemikran filsafat yunani dan bermacam-macam aliran pemikiran. Sebab setiap pemikiran yang tidak diterangi dengan manhaj kitabullah dan Sunnah Nabi dan jalannya para Salafus Shaleh maka akhirnya adalah kehancuran dan kesesatan walaupun demikian hebatnya, karena mengambil sumber dan penerangan dari Al Kitab dan Sunnah akan menerangi jalannya akal sehingga tidak salah dan tersesat dan berjalan dengan jalannya para salafus shaleh adalah pengaman dari kesesatan dan penyimpangan karena mereka telah mengambil sumber mazhabnya dari sumber-sumber yang murni dari Al-Kitab yang tidak terdapat padanya satu kebathilanpun dan dari As-Sunnah yang barang siapa yang berpegang teguh dengannya berarti telah berada pada hujjah yang terang benderang.

  1. Doktrin-Doktrin Aliran Mu’tazilah

Setiap pemikiran tentang studi keislaman pasti memiliki doktrin atau suatu pemikiran yang mereka anggap benar, begitu pula dengan aliran Mu’tazilah. Diantara doktrin-doktrin mereka adalah :

  1. At-tauhid

At-tauhid merupakan prinsip pertama dari intisari ajaran Mu’tazilah. Bagi Mu’tazilah, tauhid mamiliki arti yang spesifik. Tuhan harus di sucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-nya. Tuhanlah satu-satu nya yang Esa, yang unik dan tak ada satu pun yang menyamai-nya. Oleh karena itu, hanya dia-lah yang Qadim. Bila ada yang Qadim lebih dari satu, maka dia telah terjadi Ta’addud al-qudama (berbilangnya zat yang tak berpermulaan)[1].

  1. Al-adl

Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan . Dalilnya kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah :

“Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205).

“Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)

  1. Al-Wa’du Wal-Wa’id

Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’du) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam syurga, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam neraka, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah.

orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. ( At-Taubah : 124-125 ).

  1. Al-amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi’ An al- Munkar

Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah (muslim) yang zalim. Bantahannya : Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pimpinan) di antara kalian.” (An-Nisa: 59) Rasulullahbersabda: “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka yang berhati setan namun bertubuh manusia.” (Hudzaifah berkata): “Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku mendapati mereka?” Beliau menjawab: “Hendaknya engkau mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman).

  1. Sejarah Berdirinya Aliran Qadariyah

Qadariyah mula-mula ditimbulkan pertama kali sekitar tahun 70 H/689 M, dipimpin oleh seorang bernama Ma’bad al-Juhani dan Ja’ad bin Dirham, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). Menurut Ibn Nabatah, Ma’bad al-Juhani dan temannya Ghailan al-Dimasyqi mengambil faham ini dari seorang Kristen yang masuk Islam di Irak. Ma’ad al-Juhni adalah seorang tabi’in, pernah belajar kepada Washil bin Atha’, pendiri Mu’tazilah. Dia dihukum mati oleh al-Hajaj, Gubernur Basrah, karena ajaran-ajarannya. Dan menurut al-Zahabi, Ma’ad adalah seorang tabi’in yang baik, tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibnu al-Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj, Ma’ad mati terbunuh dalam tahun 80 H.

Sedangkan Ghailan al-Dimasyqi adalah penduduk kota Damaskus. Ayahnya seorang yang pernah bekerja pada khalifah Utsman bin Affan. Ia datang ke Damaskus pada masa pemerintahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H). Ghailan juga dihukum mati karena faham-fahamnya. Ghailan sendiri menyiarkan faham Qadariyahnya di Damaskus, tetapi mendapat tantangan dari khalifah Umar ibn Abdul al-Aziz. Menurut Ghailan, manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya, manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaannya sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Dalam faham ini manusia merdeka dalam tingkah lakunya. Di sini tidak terdapat faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu, dan bahwa manusia dalam perbuatan-perbuatannya hanya bertindak menurut nasibnya yang telah ditentukan semenjak azal.

  1. Doktrin-Doktrin Aliran Qadariyah

Dalam kitab tarikh Al-firaq Al-islamiyah, Ali Musthaf Al-ghurabi menjelaskan bahwa menurut paham teologi aliran Qodaiyah, manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya; manusia sendirilah yang melakuakan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kemauannya sendiri, dan manusia sendirilah yang melakuakan perbuatan-perbuatan jelek atas kehendak dan kemauannya sendiri.[2] Menurut paham mereka, manusia mempunyai kebebasan dalam tingkah lakunya. Ia dapat berbuat baik kalu ia menghendakinya, dan ia pula dapat berbuat jahat kalau ia menghendakinya.

Dalam ajarannya, aliran Qodariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerakan laku dan perbuatannya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan unutuk melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak melaksanakan kehendaknnya itu. Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusialah yang menentukan, tanpa ada campur tangan Tuhan

Hal ini sesuai dengan salah satu ayat al-qur’an pada surat Al-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaa yang ada pada diri mereka sendiri


[1] Abd Al-Jabbar bin Ahmad, Syarh Al-Ushul Al-Khamsah, Maktab Wahbah, Kairo, 1965, hal. 196

[2] Drs. Hasan Basari. M. Ag.  Dkk, ILMU KALAM sejarah dan pokok pikiran aliran-aliran, Bandung, 2009, hlm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: