resume studi sejarah islam sunda

1

AGAMA ISLAM DAN BUDAYA SUNDA

Suatu kebudayaan lahir tidak dalam waktu yang singkat, dan dapat terjadi dalam kurun waktu yang sangat panjang, hal ini dikarenakan perlunya kesepakatan antar masyarakat untuk menjadikan hal tersebut suatu acuan dalam penyelesaian suatu masalah tertentu. Yang ketika ada budaya baru yang masuk pada kebudayaan tersebut yang dalam hal ini kebudayaan sunda maka budaya tersebut akan diseleksi apakah sesuai dengan jati diri kebudayaan sunda atau tidak. Jika sesuai maka akan diterima dengan mudah meskipun memiliki waktu tertentu agar dapat diterima namun jika tidak sesuai dengan kepribadian dari kebudayaan sunda maka akan ditolak, meskipun kebudayaan yang baru tesebut tidak sesuai dengan kebudayaan sunda tetapi dalam jangka waktu yang sangat lama kebudayaan tersebut akan berbaur dengan kebudayaan sunda yang asli.

Masuknya islam kedalam tataran sunda tidaklah diperoleh melalui jalur peperangan seperti daerah-daerah yang lain, hal ini dikarenakan islam mudah diterima oleh masyarakat sunda jadi tidak perlu adanya kekerasan dalam menduduki kawasan sunda. Hal ini pun disebabkan oleh beberapa hal yaitu antara islam dan sunda memiliki karakteristik yang hampir sama dan islam itu sangat sederhana dalam ajarannya sehingga mudah diterima. Sehingga efek dari masuknya islam dalam kebudayaan sunda mempengaruhi pula dari berbagai sisi, mulai dari upacara ritual, pernikahan, warisan, kegiatan sosial dimasyarakat, pemuliaan bulan tertentu seperti bulan Maulud atau Mulud dalam bahasa sunda, bahkan dari arsitekpun mulai terpengaruh oleh islam itu sendiri.

Salah satu karakteristik yang menjadikan antara masyarakat Sunda dan agama Islam ini adalah adanya suatu keyakina pada yang maha esa. Jika dalam masyarakat Sunda meyakini pada Sang Hyang, yang telah dianggap sebagai pemcipta, yang maha tunggal, dan maha esa. Maka dalam agama islam pun hal itu dianggap sebagai agama tauhid yaitu yang kita kenal dengan Allah yang maha esa.

Memang benar, jika kita telisik dari periodisasi antara turunnya Islam dan Hindu-Budha, yang lebih dahulu masuk adalah Hindu-Budha akan tetapi meskipun agama tersebut lebih dahullu masuk namun masyarkat sunda tetap meyakini bahwa dewa-dewa tersebut hanyalah bagian dari kekuasaan Sang Hyang yang dian di Kahyangan.

Namun yang harus menjadi perhatian kita saat ini adalah bagaimana kita sebagai bagian dari masyarakat sunda untuk dapat melestarikan berbagai jenis kebudayaan yang ada seperti Angklung, Gendang, das sebagainya. Yang pada saat-saat ini mulai kehilangan jati dirinya. Bahkan ada salah satu cabang dari ilmu pengetahuan yang berusaha untuk dapat mencari tahu dan menemukan bagaimana agar setiap kebudayaan yang ada itu tidak hilang dan lenyap, ilmu pengetahuan ini adalah Antropologi

Sebuah anekdot pun mulai tercipta “Aneh lamun aya urang sunda lain islam” yang telah diucapkan oleh Endang S Anshari, hal ini mengisyaratkan bahwa antara islam dan masyarakat sunda sudah menjadi sesuatu yang erat sehingga tidak dapat dipisahkan kembali. Salah satu contohnya adalah ketika ada seorang anak yang bernama “Asep” maka kita akan membuat sebuah argument bahwa Asep itu beragama islam, meskipun tidak terlihat sama sekali title yang mencirikan bahwa dia beragama islam namun ketika nama Asep itu berasal dari dari sunda atau seperti nama orang-orang sunda maka agama dia adalah islam.

 

 

 

 

 

2

KELANGKAAN CANDI DAN KEPERCAYAAN SUNDA PRA-ISLAM

            Salah satu hal yang mencirikan apakah suatu kebudayaan itu berkembang atau tidak serta ada atau tidak, adalah dengan adanya bukti-bukti peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan kebudayaan tesebut, yang dalam hal ini adalah artefak-artefak atau pun candi-candi, akan tetapi dikalangan masyarakat sunda memiliki suatu Fenomena yang membuatnya berbeda dengan daerah-daerah yang lain. Akan tetapi dengan kelangkaan ini jangan membuat kita menjadi minder karena semua itu bukalah hal yang sangat fatal. Oleh karena itulah berbagai argument pun mulai bermunculan untuk menjawab fenomena ini.

Pertama, Monoteismenya orang-orang sunda yaitu suatu keyakinan dari masyarakat sunda yang hanya meyakini satu penguasa jagat raya saja serta yang menguasai segala macam yang ghaib-ghaib, atau yang lebih dikenal dengan Sanghyang,sangiang atau dalam ajaran islam dikenal dengan konsep tauhid. Sehingga ketika ajaran Hindu masuk kedalam tataran sunda keyakinan ini tidaklah pudar, mereka meyakini dewa-dewa yang didalam ajaran Hindu berada dibawah kekuasaan sanghyang yang selalu berdiam diri di kahyangan. Oleh karena keyakinan kepada sanghyang itulah yang menjadikan masyaraktat sunda tidak membuat candi-candi yang digunakan sebagai tempat peribadatan, sehingga candi-candi yang berada disekitar daerah sunda pun menjadi sangat langka.

Kedua, orang-orang sunda yang egaliter yaitu suatu kepercayaan mengenai kesetaraannya derajat antar manusia. Sehingga ketika Hindu-Budha masuk kedalam masyarakat sunda tidaklah berkembang secara pesat sebagaimana dikawasan jawa tengah dan jawa timur. Hal ini dikarenakan masyarakt sunda dan Hindu memiliki perbedaan keyakinan dalam hal kesetaraan drajat, jika dalam masyarakat sunda lebih mengutamakan kesetaraan sedangkan dalam masyarakat Hindu-Budha terdapat suatu perbedaan kesetaraan antara rakyat dan rajanya. Oleh karena itulah antara rakyat dan rajanya didaerah sunda tidak memiliki suatu perbedaan sehingga raja-raja di sunda tidak mendirikan keraton atau candi-candi yang hanya akan menjauhkan kesetaraan antara rakyat dan rajanya.

Ketiga, hanya ada satu kerajaan saja yaitu suatu keadaan dimana hanya ada satu kerajaan saja yang berada di tataran sunda yaitu Kerajaan Sunda, selain itu juga kerajaan ini pun dalam melaksanakan system pemerintahannya sering berpindah-pindah sehingga kerajaan tersebut tidak secara sengaja membuat candi-candi yang menetap.

 

3

KERAJAAN PAJAJARAN DAN AWAL MASUKNYA ISLAM

 

Sebenarnya nama Kerajaan Pajajaran baru muncul sekitar abad ke-16, sedangkan sebelumnya lebih dikenal dengan nama Kerajaan Sunda dengan ibu kotanya berada didaerah pakuan. Kerajaan Pajajaran ini dipimpin oleh Sri Baduga yang merupakan cucu dari Dewa Niskala. Penamaan pajajaran ini pun seringkali mejadi sebuah tema perselisihan yang cukup mencengangkan, dalam hal ini salah satu versi mengatakan bahwa nama Pajajaran dinisbatkan dari nama sebuah pohon paku yang saling berjajar, hal ini diungkap dalam Carita Waruga Guru. Sri Baduga yang dalam masa pemerintahannya memiliki waktu yang cukup panjang dari pada para pendahulunya, dalam hal ini memiliki beberapa hasi karya yang telah diciptakannya yaitu dengan didirikannya parit-parit yang digunakan untuk memperkuat benteng pertahanan dari kerajaan sunda atau kerajaan pajajaran yang dia pimpin, meskipun dalam hal ini Sri Baduga hanya memperlebar dan memperdalam parit-parit tersebut dikarenakan parit-parit ini sebelumnya telah dibangun oleh para pendahulunya. Selain itu juga Sri Baduga membangun bukit-bukit kecil serta telaga yang menurut seorang peneliti sejarah sunda digunakan untuk membakar mayat, karena dalam tradisi di kerajaan Sunda dahulu jika ada orang yang telah mati maka mayatnya harus dibakar.

Dari sisi yang lain pun, yaitu kehidupan sosial dan ekonomi pada masa rezim Sri Baduga, dia telah melakukan sesuatu yang sangat berbeda dari pada orang tua serta uwak-uwaknya terdahulu yaitu dengan menghentikan berbagai perpajakan yang harus dibayar oleh rakyatnya kepada seorang raja. Dalam hal ini Sri Baduga memiliki suatu pemikiran yang berbeda yakni memiliki suatu keyakinan bahwa rakyatnya ini telah mengabdi kepada kerajaannya dengan sangat baik oleh karena itulah tidak pantas bagi seorang raja untuk lebih membebani rakyatnya tersebut.

Dalam hal agama atau suatu keyakinan yang dianut oleh masyarakat sunda, yang pertama kali menganut agama islam adalah Bratalegawa atau lebih dikenal dengann Haji Purwa (pertama). Hal ini telah Hageman katakan dalam salah satu penelitiannya, pernyataan ini diambil dikarenakan Bratalegawa telah menikah dengan salah seorang wanita yang berasal dari daerah Gujarat, india, hingga akhirnya dia melakukan dakwah kepada akik dan kakaknya. Meskipun dakwahnya ini ternyata ditolak oleh kedua saudaranya tersebut namun hubungan silaturahmi antara keduanya tidak terputus sama sekali. Sampai suatu saat dia memiliki seorang anak yang dikemudian hari menikah juga dengan seorang wanita yang berasal dari daerah Gujarat.

 

 

 

 

 

 

4

RAJA SUNDA TIDAK MELARANG RAKYATNYA PINDAH AGAMA

 

Kesimpulan pada makalah ini menurut saya agak tidak nyambung antara judul makalah dengan isi dari makalah ini, hal ini dapat saya katakan karena judulnya “Raja Sunda Tidak Melarang Rakyatnya Pindah Agama” namun dari isi makalahnya lebih banyak kepada historical mengenai raja-raja yang telah memimpin Kerajaan Sunda.

Bahkan Hageman salah seorang peneliti Sunda membuat kesimpulan bahwa orang muslim pertama yang berada ditataran sunda adalah Bratalegawa (Haji Purwa), ia adalah adik dari Linggabhuwana. Hal in ia kemukakan karena telah meneliti berbagai sumber yang berhubungan dengan Kerajaan Sunda tersebut seperti Carita Parahyangan.

Dalam hal keyakinan beragama seseorang, biasanya seorang raja selalu memaksakan rakyatnya agar memeluk agama tertentu yang sesuai dengan keyakinannya tersebut. Namun bagi pemimpin kerajaan Sunda yaitu Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja tidak memaksakan bagi rakyatnya untuk memeluk agama tertentu, dalam hal ini termasuk agama Islam. Semua itu terjadi karena Prabu Siliwangi telah menikah dengan seorang wanita muslim, sehingga dia membebaskan rakyatnya untuk memeluk agama tertentu meskipun dia sendiri masih menganut agama Hindu.

 

 

 

 

 

5

TOKOH-TOKOH AWAL PEMBAWA ISLAM KE TATAR SUNDA

 

Dalam setiap ajaran apapun, pasti akan ada seseorang yang membawa risalah tersebut baik ajaran yang baik maupun yang buruk, termasuk juga dalam hal orang-orang yang membawa ajaran islam serta menyebarkan ajarannya tersebut kepada masyarakatnya. Jika dikhususkan ditanah sunda, maka orang yang sangat berperan penting dalam hal penyebaran agama islam tidak akan terlepas dari peran beberapa orang pemuka agama diantaranya adalah

Pertama, Haji Purwa, beliau adalah orang yang pertama kali masuk islam serta menikah dengan wanita muslimah dari Gujarat yang bernama Farhana Binti Muhammad yang dikemudian hari memiliki seorang anak dan menikah dengan wanita yang berasal dari daerha India juga. Jalan dakwa yang telah dilakukan oleh Haji Purwa dengan jalur dialog dan yang pertama kali dia ajak untuk masuk agamanya tersebut adalah adik serta kakaknya sendiri, meskipun dakwahnya ini ditolah tapi diantara mereka tidak ada perselisihan sama sekali. Yang pada tahap selanjutnya beliau mulai menyebarkan ajaran agamanya kepada rakyatnya.

Kedua, Syekh Quro, dia dikenal sebagai orang yang pertama kali mendirikan sebuah pesantren di daerah Cirebon, dan yang sering diajarkannya adalah Qira’at (Quro), sehingga ia dikenal oleh masyarakatnya dengan syekh Quro. Salah seorang murid dari syekh Quro ini adalah Subang Larang yang dikemudian hari menikah dengan Prabu Siliwangi.

Ketiga, Syekh Nurul Jati, beliau mengajarkan ilmunya kepada walasungsang yang notabene adalah seseorang yang mempunyai pengaruh yang cukup kuat dalam suatu pemerintahan. Bahkan sebelum belajar kepada syekh Nurul Jati ini, walasungsang sempat mendapatkan benda-benda pusaka yang ia peroleh dari beberapa gurunya yang lain yang setelah ditafsirkan oleh syekh Nurul Jati ternyata memiliki makna keagamaan yang sangat banyak.

6

ISLAMISASI DINASTI PRABU SILIWANGI

Proses islamisasi Prabu Siliwangi tidak akan terlepas dari silsilah pernikahannya dengan Nyi Subang Larang, murid dari syekkh Quro. Pada pernikahan inilah Prabu Siliwangi mulai mengislamkan dirinya, dan akhirnya dikaruniai tiga orang anak yaitu Walasungsang, Laras Santang, dan Raja Sangara. Yang dikemudian hari salah satu anaknya tersebut akan melahirkan seorang pemuka agama yang akan menyebarkan islam di tanah jawa dan suatu hari nanti akan ada yang selalu mengenangnya, dia adalah Sunan Gunung Djati atau juga dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah.

Selain itu pula, terdapat beberapa factor yang membuatnya masuk pada agama islam yang dikemudian hari dapat memudahkan bagi penyebaran agama islam di tatar sunda, diantranya adalah

Pertama, Terdapatnya pesantren Syekh Quro di daerah Cirebon, yang didalamnya terdapat seorang murid yang suatu hari nanti menikah dengan Prabu Siliwangi, dia adalah Nyi Subang larang. Selain pernikahannya dengan Ny Subang larang, beliau pun menikahi dua orang wanita lagi dia adalah Nyi Ambet Kasih, dan Nyi Aciputih

Kedua, Terdapatnya proses pelayaran yang dilakukan oleh panglima Cheng Ho keberbagai daerah, salah satunya didaerah Cirebon. Yang kemudian hari bersahabat dengan Ki Gedeng Tapa. Di kota Cirebon inilah Panglima Cheng Ho mendirikan mercusuar yang biasa digunakan oleh para para pelayar untuk menentukan arah dan juga mendirikan klenteng  Sam Po Kong

Ketiga, Nyi Subang Larang yang mulai mengirimkan anaknya walasungsang untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi yang selanjutnya atas perintahnyalah walasungsang pergi untuk menunaikah haji

 

7

PERAN SUNAN GUNUNG DJATI DALAM DAKWAN DAN SOSIAL BUDAYA

 

Sunan Gunung Djati yang dikenal sebagai salah satu dari Wali Songo, yang kini namanya digunakan sebagai salah satu nama di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Ternyata pada  masa-masa proses belajarnya kepada beberapa guru, berdasarkan naskah CPCN dan Babad Cirebon, dia telah melakukan proses belajarnya kepada Athailah al-iskandari dan Najmuddin al-kubra selama dua tahun. Meskipun dalam naskah tersebut terdapat kisah yang a-historis yaitu ketika sunan gunung  belajar kepada dua guru tersebut ternyata terdapat perbedaan zaman diantara ketiganya. Jika Athailah merupakan seorang ulama yang sangat terkenal sejak abad ke 13 dan Najmudin al-kubra yang hidup sekitar akhir abad ke 12, hal ini sangatlah berbeda dengan Sunan Gunung Djati yang mulai menyebarkan agamanya pada abad ke 16. Meskipun dari pemaparan yang dikisahkan oleh CPCN dan Babad Cirebon tersebut terdapat kisah yang bertolak belakang, namun kesimpulan tersebut diambil dikarenakan Sunan Gunung Djati pernah berbaiat pada tiga buah gerakan tarekat di mesir pada zamannya yaitu tarekat Sadziliyah, Naksabandiyah, dan Sattariyah yang secara silsilahnya dinisbatkan kepada Athailah al-Iskandari dan Najmudin al-Kubra.

Sehingga sebuah kesimpulan pun diambil bahwasannya Sunan Gunung Djati pernah melakukan proses berguru kepada Athailah al-Iskandari dan Najmudin al-Kubra, meskipun terdapat perbedaan zaman diantara keduanya.

Setelah Sunan Gunung Djati atau dikenal dengan Syarif Hidayatullah melakukan proses berguru ke negeri mekah dan madinah, kemudian beliau pun berdakwah  ke daerah Cirebon yang di kemudian hari menggantikan Syekh Datuk Kahfi, selain dikota Cirebon beliau pun memperluas medan dakwahnya  dikota Babadan dan Banten.

Setelah itu, Sunan Djati pun diangkat sebagai kepala negara dan Tumenggung didaerah Cirebon, dan pada saat inilah yaitu selama 34 tahun beliau mulai mendirikan bangunan untuk menjalankan roda pemerintahannya, yaitu mulailah didirikan mesjid yang diberi nama mesjid Sang Cipta Rasa dan saat kini lebih dikenal dengan mesjid Syekh Djati, selain itu pula beliau mendirikan mercusuar, sarana transfortasi untuk umum dan kerajaan, dan mulai memperluas daerah kekuasaan keraton pada lahan yang luasnya sekitar 20 km.

Dalam penyebaran sebuah ajaran, salah satu cara yang paling cepat dan mudah adalah jika para penyiar tersebut memiliki sebuah status sosial yang lebih baik dari yang lain yang secara sederhana disebut dengan kaum bangsawan. Hal ini pun telah dimiliki oleh Sunan Djati, beliau selain menjadi seorang Susuhunan di Cirebon, beliaupun menjadi seorang Tumenggung yang otomatis memiliki wewenang, keshalehan, dan ekonomi yang kuat. Karena hal inilah beliau lebih mudah dalam menyebarkan ajarannya kepada orang-orang yang akan beliau ajak dakwah serta lebih mudah dalam hal memperluas medan-medan dakwahnya

Salah satu cara yang telah dilakukan oleh para wali dan para para penyebar islam lainnya yaitu dengan masuk pada salah satu budaya dimana ia berasal, seperti pewayangan, ronggeng, dan lain sebagainya. Hal ini pun telah dilakukan oleh oleh Syekh Djati yaitu dengan menggunakan symbol-simbol wayang, barong, topeng, dan ronggeng yang kesemuanya merupakan jenis kebudayaan yang berasal dari daerah Cirebon. Namun pada saat ini semua kebudayaan tesebut telah kehilangan filosofinya, hal ini salah satunya dikarenakan kurangnya penjelasan dari para leluhur yang memberikan pengertian dari filosofi sehingga empat kebudayaan itu lahir.

 

 

8

KRITIK ATAS METODE SEJARAH KRITIS :

Kasus Sunan Gunung Djati

 

Dalam penyelidikan sebuah kesejarahan apalagi mengenai ketokohan seseorang yang telah dianggap benar adanya dan benar-benar terjadi, terkadang dalam metode sejarah semua itu harus di kritisi dengan sangat radikal, hal ini dilakukan agar bisa memperoleh kisah yang valid dan terhindar dari sifat legenda, mitos, dan dongeng. Hal ini pun telah dilakukan oleh Nina dalam salah satu seminarnya dengan menyebutkan “Sejarah Kritis”. Nina dalam hal ini ditunjuk sebagai seorang pengisi menyebutkan bahwa sebuah peristiwa sejarah dapat dikatakan benar-benar valid jika ditopang oleh sumber yang primer yaitu disaksikan sendiri, didengar sendiri, dan dialami sendiri. Akan tetapi bukti-bukti yang mengatakan bahwa Sunan Djati itu benar-benar ada lebih disandarkan pada bukti yang sekunder yaitu pada bukti-bukti tertulis, artefak, dan mentifak sehingga bukti sekunder harus diragukan meskipun banyak orang yang meyakini tentang peristiwa tersebut.

Akan tetapi dari seminar ini pun telah banyak yang memberikan beberapa keraguan yang dapat memecahkan teori tersebut, salah satu diantaranya adalah bagaimana mungkin peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi dapat diragukan hanya karena tidak ada sumber-sumber primer. Sementara ada banyak sumber-sumber sekunder yang dapat memperkuat dan menjelaskan tentang peristiwa seseorang, sehingga Drs. Moeflich Hasbullah, MA menyimpulkan bahwa artifact dan mentifact merupakan sumber yang paling kuat menskipun tidak ada sumber primer yang mendukungnya.

Bahkan De Graaf dan Pigeaud pun lebih mencondongkan pendapatnya mengenai islam di asia tenggara pada sumber-sumber sekunder, hal ini dilakukan karena pada sumber-sumber sekunder meskipun lebih dekat kepada kisah-kisah legenda, dongeng, dan mitos-mitos akan tetapi masyarakat yang menulis peristiwa tersebut lebih dekat dan kenal pada objeknya. Sedangkan jika merujuk pada metode-metode dan sumber-sumber yang diungkapkan oleh orang-orang barat, lebih banyak terjadi pembiasan budaya, hal ini dikarenakan orang-orang barat dan eropa menganggap ajaran yang dianut di tataran sunda khususnya sebagai ajaran yang sesat dan mereka hanya melihar realita budaya didaerah perkotaan saja sehingga tidak diperoleh data yang objektif.

Akhirnya pilihanlah yang harus kita lakukan untuk meneliti peristiwa sejarah yang sebenarnya. Inilah hal yang dilakukan Dr. Nina untuk lebih menggunakan metode dan sumber-sumber yang berasal dari kalangan eropa, hal ini dilakukan karena anggapan sumber-sumber primer yang dimiliki eropa lebih kompatibel dari pada sumber-sumber yang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya. Namun pilihan yang telah dilakukan oleh Dr. Nina tidak memberikan suatu konsep baru untuk memperoleh peristiwa sejarah yang valid, namun yang didapatkan hanyalah sebuah kemandegan saja. Oleh karena itulah dalam filsafat ilmu, jika ilmu pengetahuan harus diawali dengan suatu keraguan dan jika agama harus diawali dengan keyakinan.

 

 

 

9

ISLAM, AGAMA PILIHAN UTAMA DAN ABADI ORANG SUNDA

 

Seperti yang telah diungkapkan pada kesimpulan makalah terdahulu, bahwa J. Hageman menyimpulkan jika orang yang pertama kali masuk islam di daerah Galuh adalah H. Purwa (pertama). Sehingga pada periode selanjutnya beliau mulai mendakwahkan agamanya tersebut kepada adik dan kakaknya sendiri, akan tetapi ajakannya itu ditolak oleh kedua saudaranya. Namun hal ini tidak menjadikan ikatan kekeluargaan mereka menjadi berantakan, hanya karena ada salah satu keluarganya masuk agama yang berbeda. Selanjutnya dakwah pun dilakukan oleh Syekh Quro dengan mendirikan pesantren di daerah Cirebon, yang pada suatu hari salah satu muridnya menikah dengan Prabu Siliwangi dan dikaruniai tiga orang anak.

Dengan menikahnya salah satu murid Syekh Quro dengan Prabu Siliwangi, sehingga bisa memudahkan bagi agama islam untuk mulai menyebarkan agamanya ke daerah-daerah tataran sunda. Meskipun jalan dakwah yang dilakukan oleh agama islam dilakukan secara damai dan dapat diterima oleh khalayak ramai, namun ada juga daerah-daerah yang menolak dengan adanya agama ini, hal ini dikarenakan agama islam dianggap sebagai agama yang akan menghancurkan kepercayaan mereka terdahulu, meskipun tidak ada penolakan secara keras akan tetapi agama Islam ini tetapi tidak mau mereka anut.

Akan tetapi secara umum agama Islam ini tetap dianut sebagai keyakinan mereka dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah :

Pertama, melalui pendekatan sejarah. Melalui pendekatan ini seorang sejarawah hendak mengungkap alasan mayoritas orang Sunda yang telah menganut agama jatisunda atau Sunda Wiwitan mulai berpindah pada agama Islam melalui asal-usul para pendahulunya. Hal ini dikarenakan pada masyarakat sunda didalam dirinya tidak memiliki suatu kepuasan batin mengenai agama mereka terdahulu yaitu Hindu-Budha. Sehingga mereka pun mulai pindah pada agama yang baru ini yaitu Islam, selain itu pula masyarakat di tataran sunda dikenal dengan orang-orang yang rakus pada suatu keyakinan.

Kedua, melalui perbandingan agama. Dalam agama Islam dan agama sunda Wiwitan tedapat persamaan yang tidak jauh berbeda. Salah satu contohnya adalah jika dalam sunda wiwitan meyakini pada sang Hiyang yang tunggal, maka dalam Islam pun terdapat keyakinan yang dikenal dengan Allahu Ahad.  Keyakinan semacam ini tidak dimiliki dalam agama Hindu-Budha, karena dalam agama tersebut meyakini akan adanya dewa-dewa yang sangat banyak sehingga sangat bertolak belakang dengan Sunda Wiwitan yang meyakini akan ketunggalan Sang Hiyang dan semua itu dapat ditemukan dalam Agama Islam.

10

PERJUMPAAN ISLAM DENGAN TRDISI SUNDA

 

Proses perjumpaan agama Islam dengan masyarakat Sunda tidaklah terjadi secara singkat, hal ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sejak Haji Purwa yang dianggap sebagai pemeluk islam pertama di tanah Sunda dan Syekh Quro yang menyebarkan Islam dengan mendirikan pesantren. Yang dikemudian hari dikenal oleh orang-orang sunda dengan agama selam dan dapat diterima dengan sangat baik, hal ini dikarenakan salah satunya oleh persamaan kepercayaan antara Islam dan sunda Wiwitan pada saat itu. Kemudian terjadilah proses Asimilasi dan Akulturasi diantara kedua keyakinan itu dan lahirlah suatu bentuk kebudayaan baru yang terkadang dianggap bid’ah oleh Islam pada saat ini.

Namun dalam proses penerimaan agama Islam ini tidak semua daerah dan orang-orang di masyarakat Sunda yang menerimanya. Salah satu komunitas yang enggan untuk  pada agama Islam ini dan tetap meyakini pada kebudayaan leluhur mereka, kemudian pergi ke daerah pegunungan dan pada saat ini dikenal dengan Sunda Wiwitan atau orang-orang Baduy yang pada saat ini berada di daerah Kanekes, Jawa Barat.

Seperti telah disebutkan pada paragraph pertama, proses pertemuan antara kedua keyakinan tersebut tidak pelak melahirkan pola kebudayaan yang baru diantaranya adalah dengan penyesuaian antara kalender Jawa dengan kalender dari Islam yang diprakarsai oleh Sultan Agung, serta berdirinya berbagai bangunan yang telah diadopsi agama Hindu-Budha sebagai suatu agama yang telah lahir lebih awal di tanah sunda.

 

11

PENGARUH ISLAM TERHADAP BUDAYA SUNDA :

Catatan Perbandingan dan Pencerahan

            Dalam hal penyebaran sebuah ajaran, apakah itu Islam, Hindu, Budha, atau pun Nashrani tidak jarang sering terjadi suatu peninggalan yang akan menjadi suatu peristiwa yang sangat menunjang bagi kehidupan yang akan datang dan akan diselidiki oleh para sejarawan. Hal ini pun telah terjadi pada suatu keadaan Sosial Budaya antara Jawa, Sunda dan Islam.

Seperti telah dikemukakan pada kesimpulan makalah terdahulu bahwasannya kehidupan di masyarakat Sunda telah banyak dipengaruhi oleh agama Islam, salah satu diantaranya adalah dengan berbagai pola fikir, adat istiadat, dan juga berbagai bangunan yang ada di tataran sunda. Pengaruh Islam pun tidak hanya dirasakan pada masyarakat Sunda saja, namun berpengaruh juga pada masyarakat Jawa. Meskipun dimasyarakat Jawa secara umum tidak terlalu terlihat akan pengaruh Islam pada masyarakat Jawa, sehingga  tepat pada tanggal 31 Oktober 2000 diadakanlah sebuah seminar yang bertemakan pengaruh Islam pada masyarakat Jawa, yang kemudian Presiden Abdurahman Wahid pun memberikan sambutannya.

Dalam seminar tersebut, H Wahyu Wibisana mengungkapkan beberapa cirri yang menjadikan Islam mempengaruhi masyarakat Jawa, diantaranya adalah

Pertama, istilah abangan di Jawa sudah menjadi hal yang sudah tidak asing lagi, namun yang menjadi persoalannya adalah sejak kapankah istilah ini muncul, padahal istilah tersebut baru muncul di jawa pada awal abad ke 19 dan istilah tersbut lebih sering berada dilingkungan pesantren. Hal ini menunjukan bahwa agama Islam telah muncul di Jawa sebelum-sebelumnya.

Kedua, penyesuaiannya antara kalander Jawa kuno dan kalender Hijriyah yang di prakarsai oleh Sultan Agung

Ketiga, banyaknya makalah-makalah yang menunjukan cerita-cerita mengenai para pemimpin keraton. Salah satu diantaranya adalah proses islamisasi Prabu Siliwangi. Dalam naskah kaleran mengatakan bahwasannya Prabu Siliwangi masuk islam karena telah menikan dengan wanita Muslimah, namun hal ini sangat berbeda dengan naskah Priangan yang menyebutkan Prabu Siliwangi tetap tidak masuk Islam meskipun istrinya beragama islam

Keempat, adanya usur sufisme yang berada di tanah jawa, salah satunya keberadaan tradisi kejawen yang setelah diselidiki ternyata menunjukan persamaan denga ajaran sufisme yang berada di agama islam

Kelima, agama Hindu secara umum lebih mengental kepada orang-orang Jawa, yang dalam hal ini adanya cirri khas yang berada di Jawa kemudian hari diadopsi oleh orang Sunda yaitu ketika adanya suatu konsep Priyayi di tanah sunda yang ternyata memiliki persamaan dengan yang berada di jawa

12

MENELUSURI DUNIA NASKAH SUNDA

Naskah pada saat ini merupakan salah satu unsur yang telah mendapatkan perhatian yang sangat baik dari para sejarawan, hal ini dikarenakan naskah-naskah yang ada pada zaman dulu berfungsi untuk memberikan berbagai informasi mengenai kehidupan Sosial Budaya pada zaman dahulu. Akan tetapi terkadang naskah-naskah kuna pada zaman dahulu kondisinya tidak terlalu bagus, seperti ada yang sudah rusak, terbakar, hancur, dan juga rusak. Namun seiring dengan kemajuan tekhnologi semua itu saat in dapat diatasi, salah satunya terdapat didaerah Bapusipda (Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah), ditempat ini naskah-naskah atau arsip-arsip kuno dapat diperbaiki kembali dengan tanpa menghilangkan keaslian naskahnya.

Kembali lagi pada topic utama kita, bahwa naskah kuna Sunda sampai saat ini ada ribuan naskah, yang jika kita sekat dalam beberapa periode, diantaranya pertama, sebelum abad ke-17 yang dikenal dengan naskah-naskah CPCN, Bujangga malik dan sebagainya yang telah menggunakan tulisan Palawa, Arab, Jawa, dan latin. Kedua,  abad ke-18 yang telah dikenal dengan naskah-naskah Cariosan Prabu Siliwangi, dan yang ketiga, masa baru yang telah mengenal naskah-naskah Wawacan Ahmad Muhammad. Dari kesemua naskah-naskah yang ada hal ini menunjukan bawasannya naskah-naskah kuno merupakan salah satu hal yang akan menjelaskan peristiwa sejarah pada zaman dahulu, meskipun terdapat berbagai artefak yang dapat menjelaskan itu semua namun artefak-artefak itu tidak dapa berbicara dan hanya naskah sajalah yang dapat menceritakan itu semua.

Dengan adanya berbagai pengumpulan naskah-naskah ini tidak akan terlepas dari jasa para ahli sejarwan menunjukan perhatiannya yang sangat besar pada perkembangan manusia pada masa yang akan datang tanpa harus melupakan peristiwa yang telah lalu. Dalam hal ini bermunculanlah para ahli sejarah, beberapa diantaranya adalah Edi S akadjati dan Emuch hermansoemantri, Pegeaud, P Voorhoeve, Snouck Hurgronje, dan lain sebagainya.

 

13

NGANJANG KA KALANGGENGAN

Agama Orang Sunda Pra-Islam Menurut Naskah

 

Sebelum datangnya islam ke tataran Sunda, sebelumnya telah ada berbagai agama atau kepercayaan yang dianut oleh sebagian masyarakat Sunda, hal ini pun telah tercatat dalam berbagai nashak sehingga anggapan tersebut ada. Diantara berbagai kepercayaan tersebut adalah

Pertama, Naskah Sewakadarma. Dalam naskah yang di tulis oleh seorang perempuan yang bernama Buyut Ni Dawit ini mencertiakan berbagai pengalamannya dalam pencapaian untuk mencapai surge, jika dalam agama islam dikenal sebagai seorang sufi. Dalam pengalamannya tersebut, dia menyebutkan bahwa di alam yang berbeda dari alam dunia ini terdapat suatu alam yang telah di isi oleh para dewa dan manusia pada kemudian hari. Bahkan dialam tersebut telah ada tingkatan-tingkatan tertentu, diantaranya adalah Kahiyangan Kelima Dewata, kahiyangan Sari Dewata, kahiyangan Nuwati, Bungawari, dan yang terakhir adalah Bumi Kancana. Pada tingkatan ini hanya orang tertentu saja yang dapat menggapainya dan salah satu cara untuk menggapainya yaitu melalui ajaran Sewakadarma.

 

Kedua, Naskah Sanghyang Siksa : Kandang Keresan. Dalam naskah ini sangatlah jauh berbeda dengan naskah SD yang lebih banyak pada bagaimana agar seseorang itu bisa mencapai tahap sufistik tertentu, karena dalam naskah ini menunjukan sikap yang harus ditempuh dari seseorang yang telah memiliki darma agar dapat berbakti kepada masyarakat dan negara pada umumnya. Dalam naskah ini secara umun dapat dikelompokan dalam dua bagian. Pertama, Dasakresa yaitu suatu pegangan untuk orang banyak, kedua, Darmapitutur yaitu suatu naskah yang lebih banyak berisikan berbagai cara agar seseorang itu dapat bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, Naskah Jatiniskala. Dalam naskah ini berisikan suatu cara agar seseorang itu dapat menggapai suatu keabadian akan tetapi bukan keabadian yang tidak akan mati.

 

Keempat, Naskah Kawih Paningkes. Naskah ini nampaknya belum terselesaikan secara maksimal atau mungkin juga ada beberapa lempir yang telah hilang, karena pada lempir pertama terdapat kata-kata yang seharusnya ada kata-kata pendukungnya namun nampaknya semua itu tidak ada.

 

Kelima, Naskah Serat Dewabuda atau Sewakadarma Jawa Kuna. Naskah ini secara umum berisikan mengenai ajaran agama Hindu-Budha yang mengatur berbagai cara untuk hidup seseorang, sikap, dan perilakunya.

 

Keenam, Naskah Carita Parahyangan. Naskah ini merupakan naskah yang lebih condong pada pengetahuan sejarah orang-orang sunda, salah satu contohnya adalah cerita tentang Prabu Siliwangi. Meskipun dalam kategori tertentu naskah ini masih memerlukan pengkajian lebih mendalam lagi agar dapat dikatakan sebagai buku sejarah. Sehingga dari isinya pun telah Nampak perbedaan dari naskah-naskah yang lainnya. Naskah CP ini, menurut para ahli bersepakat bahwa Cp ini ditulis pada tahun 1580.

 

Dari berbagai naskah diatas, semuanya kini telah berada di Perpustakaan Nasional dengan memiliki kode tertentu. Jadi jika ada sejarawan yang ingin menyelidiki beberapa kasus kesundaan, maka tidak ada salahnya untuk merujuk pada naskah-naskah tersebut.

 

 

14

KEARIFAN DALAM PROBLEMATKA SEJARAH ISLAM SUNDA

            Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah dan juga para walisongo yang lainnya, dalam melakukan aktifitas dakwahnya tidak akan terlepas dari dua metode yang dilakukannya. Diantara metode tesebut adalah metode structural yaitu dengan berdakwah kepada para pemimpinnya dan berusaha untuk mengislamkannya dan dengan menaklukan beberapa kerajaan yang lainnya, sedangkan yang kedua melalui metode kultural yaitu dengan masuk pada sosial dan budaya masyarakatnya, salah satunya dengan masuk pada seni dimana masyarakat itu berada.

Sunan Gunung Djati merupakan seseorang yang telah mendirikan kesultana Cirebon dan merupakan leluhur dari banyaknya para ulama yang ada. Sehingga sangat wajar ketika Sunan Gunung Djati meninggal dunia selama ratusan tahun yang lalu, namun namanya masih tetap dikenang, bahkan makamnya pun masih banyak diziarahi oleh banyak orang. Menurut pendapat saya mungkin ini adalah salah satu hikmah ketika ilmu yang kita miliki kita amalkan.

Namun dalam penokohan seseorang tidak jarang sering terjadinya beberapa kontroversi, hal ini pun dialami oleh Sunan Gunung Djati. Dalam beberapa naskah yang membahas mengenai keberadaan Syarif Hidayatullah, salah satunya adalah dalam naskah CPCN. Naskah ini merupakan naskah tertua yang ditulis sekitar 150 tahun setelah beliau meninggal dunia, akan tetapi naskah-naskah tradisional tidak jarang mendapatkan suatu keragu-raguan didalamnya, hal ini dikarenakan naskah tradisional sering kali terjebak pada suatu kondisi mitos-mitos tertentu sehingga kredibilitasnya sering kali diragukan oleh para sejarawan.

Akan tetapi jika merujuk pada naskah-naskah barat pun tidak menjadikannya suatu hal yang objektif, hal ini salah satunya dikarenakan dalam naskah-naskah tersebut seorang penulis sangat jauh kedekatannya dengan tokoh tersebut. Yang terjadi hanyalah pilihan saja, jika memang dengan merujuk pada naskah-naskah barat lebih kredibel dengan mengatasnamakan ilmu pengetahuan, maka itulah pilihannya.

Bahkan salah satu seorang sejarawan  yaitu Prof. Dr Edi S Ekadjati dalam beberapa tulisannya dalam redaksi Pikiran Rakyat menyebutkan orang yang pertama kali masuk islam di tataran Sunda adalah Haji Purwa, hal ini ia merujuk pada pendapat J. Hagema. Hal ini menunjukan bahwa dengan merujuk pada pendapat-pendapat barat akan lebih menunjukan kredibilitas pendapat kita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15

ISLAM DAN SUNDA DALAM MITOS

Pandangan Manusia Sunda Masa Kini Hubungannya Dengan Islam

Sikap dan pola pikir seseorang tidak akan jauh dari bagaimana dan seberapa banyak dia bisa mendapatkan ilmu pengetahuannya. Salah satu contohnya adalah jika ada yang menganggap bahwa dengan beragama maka akan lebih banyak orang yang akan berselisih faham, kenapa dihapuskan saja agama itu dari dunia ini? Namun dengan berkembangnya berbagai pengetahuan yang ada membuktikan akan perlunya seseorang pada agama karena dalam jiwa manusia itu dibutuhkan suatu kondisi yang dapat menenangkan jiwanya dan hal itu hanya akan ditemukan pada agama yang benar.

Hal ini pun terjadi pada beberapa wawacan yang mengemukakan mengenai hubungan agama Islam dengan masyarakat Sunda. Mengenai hubungan ini hanya akan terjawab dalam dua wawacan saja meskipun masih banyak wawacan yang lainnya, diantaranya adalah Wawacan Guru Gantangan dan Wawacan Keas Santang. Meskpin tidak jarang wawacan ini tidaklah terlalu penting untuk dibahas bagi sebagian orang akan tetapi tapa disadarinya wawacan ini sangat berguna untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Dalam sebuah wawacan biasanya berisikan berbagai ajaran mengenai Islam dan juga berbagai anggapan yang secara logis tidak mungkin akan tetapi itu benar adanya. Wawacan itu seperti keidentikan antara agama Islam dengan masyarakat Sunda. Keidentikan ini bukan berarti Islam itu sama dengan Sunda akan tetapi agama Islam itu sudah menjadi jati diri bagi masyarakat Sunda, hal ini pun telah diungkap pada kesimpulan makalah-makalah terdahulu.

Kedua, wawacan kean santang. Dalam wawacan in salah seorang mahasiswa sangat meragukan akan keberadaan kean santang ini. Terlepas dari keabsahan peristiwa sejarah itu, kean santang merupakan salah satu putra dari Prabu Siliwangi yang memiliki kekuatan yang tidak tertandingi, sehingga pada suatu saat ketika dia sedang melakukan pertapaan dia mendapatkan suatu petunjuk agar pergi kea rah barat. Singkat kata dia pun akhirnya bertemu dengan Ali dan masuk Islam, namun ketika dia ingin tetap tinggal di tanah Arab dia tidak diperbolehkan dan harus pergi ke masyarakatnya dahulu untuk mendakwahkan agama barunya ini. Hal ini menunjukan masyarakat Sunda telah mendapatkan ajaran agama yang murni dari asalnya, meskipun pada saat ini agama Islam telah tercampur baur dengan adat istiadat masyarakat Sunda.

 

 

 

16

ISLAM, SUNDA DAN TANTANGAN MODERNITAS

            Berbagai tradisi yang menjadi ciri bagi masyarakat Sunda sampai saat ini telah mengalami suatu proses pengikisan dan bahkan hampir punah. Hal diakibatkan salah satunya oleh arus globalisasi yang menjadikannya mulai hilang, dan juga akibat dari kurang bisa bertahannya tradisi tersebut untuk menghadapi berbagai tantangan zaman yang sangat deras.

Diantara tradisi masyarakat sunda yang kini semakin hilang adalah berbagai permainan seperti Gatrik, Sorodot Gaplok, Ucing Sumput, Bebentengan, dan lain sebagainya yang saat ini mulai digantikan oleh permainan yang lebih bersifat visualisasi seperti, Vcd, Tv, PS, serta Bioskop. Padalah menurut pengamatan dari seorang pemerhati anak yaitu yang biasa dipanggil kak Seto, dia menyebutkan bahwa seorang anak pada masa kanak-kanaknya akan sangat jauh lebih baik untuk bermain diluar saja dari pada hanya berdiam diri di rumah dan menikmari berbagai jenis permainan yang ada saat ini. Hal ini dia kemukakan karena ketika seorang anak lebih banyak menggunakan alam sebagai medan permainannya, maka tanpa dia sadari akan meningkatkan psikomotor dari anak itu sendiri, namun yang terjadi saat ini sangatlah jauh berbeda.

Selain itu juga dari berbagai tantangan zaman yang semakin mendera, kesenian sundapun sedikit demi sedikit semakin menghilang seperti alat music Gendang, Kecapi, Seruling, Bahkan Rebana, namun yang masih patut kita syukuri adalah kesenian-kesenian tersebut masih ada, meskipun hanya ada pada momen-momen tertentu saja seperti pernikahan, sunatan masal, dll. Bahkan bahasa Sunda yang telah digunakan untuk  berkomunikasi bagi masyarakat Sunda, makin lama makin menghilang, hal ini terjadi karena orang tua yang dianggap sebagai pendidik pertama bagi seorang anak telah mengajarkan bahasa Indonesia yang dianggap lebih modern dari pada bahasa Sunda, bahkan di berbagai pertokoan di daerah Bandung saja telah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Hal ini menunjukan bahwasannya bahasa Sunda sampai saat ini telah terkuras oleh arus globalisasi dan perkembangan zaman yang semakin menjadi, maka kita sebagai orang Sunda sudah sepantasnyalah untuk bisa melestarikan bahasa kita ini, minimal dengan pemakaian bahasa Sunda sehari-hari.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: